Feb 20

MEDIA SHARING “DARI GURU UNTUK GURU”

Tag: resmiadmin @ 11:41 am

MENJADI GURU MASA KINI

Oleh : Matalih*

Perkembangan ilmu dan teknologi, telah membuat perbedaan antara dulu dan sekarang, untuk itu sebagai guru yang profesional di tuntut menjadi guru masa kini dengan mengambil langkah-langkah sebagai berikut :

A. Zero Mind Management (ZeMiMa)

Merupakan suatu tahapan  untuk menyiasati suatu perubahan menjadi suatu peluang (opportunity) bukan suatu ancaman (Treat), dengan demikian seorang guru senantiasa meng up-date pengetahuan ke-profesionalnya sebagai guru mata pelajaran dan sebagai pendidik guru untuk senantiasa  mengdiagnosis metode-metode pembelajaran (Learning Methode) yang dilakukannya di kelas, sehingga dapat meng creat dirinya menjadi guru inovatif, kreatif dan menjadi guru pembelajar yang sejati .

Mengapa menggunakan azas Zero Mind Management? Karena Zero adalah segalanya;. Semuanya adalah nol Ini adalah matematika.  Jadi nol pikiran sangat menarik . Jika kita sebagai  guru  selalu menjaga pikiran nol, maka kita sebagai guru dapat melakukan semuanya.. “. Hal ini dapat dibuktikan dengan ilustrasi perhitungan matematika  berikut :

“Jika Anda mengatakan nol adalah angka, Anda dapat melakukan segalanya.  Mari kita lihat ini.. 9 x 0 = 0. Lalu, 9 = 0 / 0. OK? Kemudian, jika Anda mengatakan itu nomor, maka 0 / 0 = 1. Jadi 9 = 0 / 0 = 1, dan 9 = 1. Jika , nol bukan angka, yang tidak mungkin 0 / 0 = 1 adalah tidak mungkin..”

“OK, tidak mungkin adalah OK Kemudian, 9 x 0 = 0 Itu berarti 9 = 0 / 0 10.000 x 0 = 0 Kemudian 10.000 = 0 / 0 0 / 0 berarti 0 / 0 = 10.000 dan 0 / 0 =…. 9. Jadi 9 = 10.000.

B. Mengetahui dan memahami tentang karakteristik peserta didik

Tahapan kedua  yang harus dilakukan guru untuk menyiasati kondisi peserta didik di masa kini untuk dapat meng creat pembelajaran di kelas sehingga terwujud pembelajaran yang aktif (Active Learning) adalah mengetahui dan memahami tentang karakteristik peserta didik. Adapun karakteristik peserta didik  saat ini adalah sebagai berikut :

1. Generasi TI

Pengaruh Teknologi Informasi (TI) berperan sangat besar bagi pembentukan jati diri peserta didik. Ibarat pedang bermata dua, TI memberikan pengaruh positif maupun negatif. Yang positif misalnya; acara-acara edukaif, hiburan segar, informasi terkini, wawasan-wawasan  baru, dan lain-lain. Dan yang negatif; tayangan tidak edukatif, cerita picisan, informasi vulgar, pornografi, dan lain-lain. Di satu sisi anak menerima rangsangan yang berguna, tetapi di sisi lain dapat gempuran rangsangan-rangsangan  yang merugikan. Hal ini peserta didik disebut generasi TI, yakni generasi yang lebih tergiring ke aspek rasional, namun cendrung rapuh kualitas emosi mereka. Hantaman informasi bertubi-tubi, mampu mengguncang tegarnya mental, hal ini membuat peserta didik masa kini cendrung manja, jadi gampang frustasi, mengalami tekanan, konflik batin dsb.

2. Genersasi objek didik

Di era globalisasi, kompetisi telah menjadi tren di segala bidang kehidupan, baik ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya dan lain-lain. Karena itu, tak heran orang tua gemar memacu anak-anaknya untuk melakukan sesuatu secara berlebihan. Tujuanya agar anak menjadi individu  hebat sehingga bisa unggul dalam kompetisi apa pun saat dewasa kelak. Namun orang tua tak pernah peduli, apakah cara yang ditempuh benar atau salah. Apakah proses yang berlangsung memang sesuai potensi dan alam kejiwaan anak atau tidak. Dengan demikian jadilah anak-anak sebagai generasi objek didik karena dalam proses pendidikan, mereka hanya diposisikan sebagai pelengkap penderita dan bukan pelaku utama. Hal ini berdampak pada peserta didik cendrung bersikap patuh daripada mandiri. Atau terkesan lebih sebagai robot daripada peserta didik yang kritis dan penuh gagasan. Peserta didik masa kini lebih banyak mencerminkan gambaran : kurang kreatif, kurang original dan kurang otentik.

3. Generasi korban kontaminasi

Kemajemukaan masalah di era globalisasi, mendatangkan pula akibat yang beranekaragam di banyak bidang hidup dan kehidupan ini. Ketika industri tumbuh berkembang dengan pesat, kendaraan bermotor marak di setiap pelosok, makanan atau minuman akrab dengan pengawet, bakteri, dan virus hadir di berbagai tempat. Macam-macam kontaminasi itu, misalnya : bahan pengawet (formalin dan boraks) pada makanan tertentum atau logam berat (merkuri, timbal, kadmium, dan lain-lain). Kontaminasi inilah yang oleh para ahli sering dikaitkan dengan kondisi anak setelah lahir, yang ada hubungannya dengan permasalahan otak. Misalnya diagnosis ADD (Attention Deficit Disorder), ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), autisme, Sindroma Asperger dan lain-lain.

Akibat meluasnya pencemaran demikian, maka jadilah peserta didik yang disebut sebagai generasi korban kontaminasi. Artinya, suatu genarasi yang banyak terpapar kontaminasi, baik saat mereka masih dalam rahim ataupun setelah dilahirkan akan mengalami kecendrungan gangguan perkembangan, misalnya dalam bidang komunikasi, prilaku, persepsi dan lain-lain.

Untuk menjadi guru masa kini, maka kita harus menjadi penakluk bukan sebagai pecundang (looser). Adapun kriteria guru masa kini adalah guru yang dapat :

a. Merebut Momentum

Sebagai seorang guru yang hidup di era milenium, harus siap menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat. Dalam perubahan cepat ini, terlambat mengambil langkah akibatnya dapat fatal, oleh sebab itu kita mesti waspada dan jeli melihat bermacam peristiwa yang ada disekitar kita. Untuk itu kita sebagai  guru masa kini harus dapat  merebut momentum. Dan kita sebagai guru senantiasa mengingat kata bijak berikut  ” Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu,orang-orang yangmasih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan” sebagai motivator diri.

b. Berkomunikasi Efektif

Menanggapi berbagai pola perilaku peserta didik, dapat saja suatu saat kita tak mengerti. Misalnya dimata kita seolah peserta didik terlalu cuek, tidak komunikatif dan emosinya gampang meledak, dan sebagainya. Akhirnya kita berpendapat  lebih baik dibiarkan saja, terserah mau apa, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena kita tidak melakukan komunikasi efektif. Kemampuan berkomunikasi efektif lah yang layak kita terima sebagai guru masa kini.

c. Memiliki Kualitas Puncak

Kita sebagai guru dituntut untuk memiliki kualitas pribadi yang tinggi, karena hanya pribadi yang berkualitas tinggi yang mampu tetap jernih dan tegar menghadapi 1001 macam persoalan, tanpa harus mengalami stres kejiwaan. Dengan memiliki kualitas puncak inilah kita dapat memperoleh predikat guru masa kini.

Leave a Reply